
Membuat kapal perang (KRI) berbahan dasar aluminium yang sukses dilakukan di Batam bukanlah sesuatu pekerjaan yang muda. Selain dikejar waktu, KRI itu haruslah sesuai standar marine class.
Bukan saja persoalan waktu, biaya yang diploting dalam anggaran Mabes TNI-AL tidaklah mencukupi untuk membuat sebuah kapal bagus berstandar internasional itu. Buktinya, dalam proses pembuatan saja sudah tiga kali gambar (design) kapal tersebut diganti, hanya untuk suatu alasan yang lumrah, yakni anggaran tak mencukupi.
Desain awal, seharunya kapal perang itu berkecepatan 32 knot. Itu berarti mesin yang dibutuhkan haruslah mesin 2.700 HP (horse power) x 2. Namun, harga mesin sebesar itu mencapai kurang lebih Rp8 miliar sampai Rp10 miliar untuk satu buah mesinnya.
Desain yang telah susah payah dibuat, kemudian diganti dengan merancang kapal berkecepatan di bawahnya, yakni ukuran 1,250 HP x 3 dengan kecepatan 28 knot. Lagi-lagi tersandung pendanaan. Karena selisih harganya tak sedemikian signifikan. Rancangan kapal kembali dirubah terutama pada hull (bawah air) kapal tersebut. ”Dengan perubahan itu, para desainer kapal itu harus bekerja ekstra dan berhati-hati,” kata perwira pengawas (pawas) pembangunan Fasharkan Mentigi Kapten Gatot Arijanto ketika ditemui Batam Pos, belum lama ini.
Akibat terkendala dana tersebut, ia bersama jajarannya kembali mengajukan proposal ulang dengan desain berkapasitas lebih kecil, yakni kecepatan kapal mencapai 20 knot, dengan desain mesin 1250 HP x 2, yakni mesin MAN buatan Jerman berstandar marine class. Setelah mendapat persetujuan Mabes TNI-AL dengan rancangan yang ada, kendala lain terus muncul, yakni tenaga kerja lapangan yang akan membuat kapal tersebut dari titik nol. Perlu shipyard yang berpengalaman dan mampu menyelesaikan pekerjaan kapal tersebut.
Dilakukanlah survei keliling di seluruh shipyard yang ada di Batam. Dari keseluruhan yang dikunjungi, hanya sekitar empat hingga enam shipyard yang sanggup mengerjakan kapal tersebut, namun tak semunya memiliki lisensi seperti yang diharapkan. Alumni teknik perkapalan Universitas Hang Tuah Surabaya itu, mengaku nekat menggandeng PT Batam Express Shipyard (BES) yang nota bene perusahaan galangan milik anak bangsa.
Bersama pimpinan tertinggi Fasharkan Mentigi Uban, yakni Kolonel Sugeng dan dua anak buahnya masing-masing Lettu Syahrul dan Agus Santoso, memutuskan untuk tetap menyelesaikan pekerjaan tersebut. ”Ditetapkan PT BES sebagai pelaksana pekerjaan itu bukanlah tanpa kendala,” kata dia. Pasalnya, PT BES belum pernah membuat kapal perang (KRI) terutama kapal yang memiliki linggi (haluan) yang agak ekstrim serta memiliki spesifikasi khusus.
Sumber daya manusia (SDM) lokal yakni putra-putri Indonesia yang berada di shipyard PT BES yang diawasi Fasharkan Mentigi selama 14 bulan secara bahu-membahu melaksanakan proyek itu. KRI made in Indonesia berbahan aluminium itu adalah kapal pertama yang mampu dikerjakan anak bangsa. Walau buatan dalam negeri, material pembuat kapal itu umumnya didatangkan dari luar negeri. ”Untuk plat aluminium ukuran 4 milimeter sampai 30 milimeter harus dibeli dari Italia, Yunani, bahkan Afrika Selatan. Mesinnya dibeli di Jerman. Sedangkan jaringan elektrikal (Schendier) dari Prancis,” ujar Gatot.
KRI Krait sendiri memiliki sistem pendukung pengaman untuk peluncuran rudal ke permukaan (SSM), radar marting (penandaan) yang bisa membaca nama kapal musuh. Walau terus mengalami banyak perubahan yang kadang membingungkan, namun Direktur PT BES Djuhairi Dahlan kepada Batam Pos, mengaku tetap optimis kapal produksi putra-putri Indonesia itu bakal sukses diselesaikan.
Program alih teknologi antara PT BES dan Fasharkan Mentigi untuk menyelesaikan KRI tersebut akhirnya tercapai. ”Hanya satu tujuan, yakni menunjukkan pada negara lain bahwa Indonesia juga mampu mendesain, membuat, dan memiliki kapal perang berbahan aluminium,” imbuh Djuhairi. diedit @ batampos
----000----

Panglima TNI Jenderal TNI Djoko Santoso disaksikan KSAL Laksamana TNI Tedjo Edhy Purdijatno meresmikan dua unit Kapal Perang RI (KRI) jenis Patroli Cepat (PC-40) yang dibuat oleh Fasilitas Pemeliharaan dan Perbaikan (Fasharkan) TNI AL Mentigi Tanjung Uban, Riau. Dua kapal yang diresmikan di Dermaga Fasharkan Mentigi, Rabu (7/1/2009), itu adalah KRI Krait-827 dan KRI Tarihu-829.Upacara peresmian dua KRI tersebut selain ditandai dengan penaikan bendera merah putih, ular-ular perang dan lencana perang di KRI juga ditandai dengan penyematan tanda jabatan oleh Panglima TNI kepada Komandan KRI Krait-827 Kapten Laut (P) Agus Darmawan dan Komandan KRI Tarihu-829 Kapten Laut (P) Tonny Sumarno. @detiknews
Tanggal 24 Oktober 2008 merupakan hari yang bersejarah bagi perkembangan dunia IPTEK Indonesia, khususnya teknologi radar.Hari itu, pertama kalinya Indonesia berhasil meluncurkan radar maritim INDRA (Indonesian Radar) yang produksinya sepenuhnya dilakukan oleh anak bangsa.
Radar Maritim (Coastal Radar) INDRA saat diujicobakan di Pantai Cilegon, Kota Cilegon, Banten berhasil mendeteksi dan mengukur jarak sebuah kapal yang sedang berlayar di laut dengan akurat. Saat uji coba berlangsung, disaksikan oleh Dinas Litbang TNI-AL.
Radar ini dibuat dengan kemampuan mendeteksi dan mengukur sebuah jarak kapal di lautan dengan memanfatkan teknologi Frequency Modulated Continuous Wave (FMCW), dimana menghasilkan daya pancar yang sangat rendah. Daya pancarnya yang hanya 2 watt tidak akan membuat perangkat-perangkat lain disekitarnya terganggu. Selain itu, sangat lemah dideteksi oleh radar scanner membuat INDRA ideal sebagai radar senyap.
Radar ini diberi nama INDRA CXD-1, mempunyai daya jangkau 2 km, 4 km, 8 km, 16 km, 32 km dan maksimum 64 km. Sistem transmitter menggunakan X band (sekitar 9.0 GHz).
Penempatan radar menggunakan tower diintegrasikan dengan antena. Pengolah citra radar menggunakan MATA (Maritime Tracking Aid) serta IRNET (INDRA Network) dimana tampilan dengan layar warna VGA resolusi minimal 1280 x 1024 pixels, sistem operasi Linux/Unix.
Radar Maritim INDRA dibuat oleh Solusi247 sebuah perusahaan teknologi informasi berlokasi di Jakarta. Melalui divisi radar RCS-247 (Radar & Communication Systems), Solusi247 berkerjasama sama dengan PPET-LIPI (Pusat Penelitian Elektronik dan Telekomunikasi) Bandung, ITB, UI, IDE (Innovation Design Engineering), IRCTR-TU Delft (International Research Centre for Telecommunication-transmission and Radar) Belanda, INFRANET, IBM dan PT. Serang Shipyard membuat radar ini.
Saat ini RCS-247 telah mengembangkan Radar Kapal (Marine Radar) dengan nama INDRA-MX-1, INDRA-MX-1A, INDRA-MXD-1, dan INDRA-MXD-1A serta radar penembus tanah (Ground Penetrating Radar).
CV. Sari Bahari didirikan di tahun 1993 oleh Ir. Ricky Hendrik Egam di Malang, Jawa Timur. Pada awalnya perusahaan ini mengkhususkan pengadaan mesin dan suku cadang impor bagi perusahaan yang bergerak di industri strategis (BUMNIS – Badan Usaha Milik Negara Strategis).
Saat ini CV. Sari Bahari telah mampu memproduksi alutsista sendiri didukung fasilitas tiga buah workshop yang terletak di Malang dan Kota Batu.
Alutsista yang berhasil diproduksi serta telah bersertifikat yang dikeluarkan oleh DISLITBANGAU (Dinas Penelitian dan Pengembangan Angkatan Udara) dan DISLAMBANGJAU TNI AU.
Alutsista tersebut adalah bom P 100 – 120 (latihan/hidup), warhead pratice cal 2.75” PSB smokey, container motor rocket cal. 2.75”, mounting stand gun cal 5.56 – 12.7 mm dan folding fin rocket cal 2.75”.
Bom P 100 - 120
Sejenis dengan OFAB 100-125. Bom P100 memiliki spesifikasi panjang total 1.130 milimeter, berat total 100-125 kilogram, diameter 273 milimeter. Bom ini dibuat dari bahan besi nodular untuk body, Baja VCN 15 untuk suslub, dan SP – 37 untuk bagian ekor. Ekornya sendiri memiliki panjang 410 milimeter. (TempoInteraktif)
Bom P 100 - 120 (Latih)

Bom P 100 - 120 (Hidup)
Warhead Pratice cal 2.75” PSB Smokey

Container Motor Rocket Cal. 2.75”

Mounting Stand Gun Cal 5.56 – 12.7 mm

Folding Fin Rocket Cal 2.75”.

Diolah @
SARI BAHARI